Info Terbaru Surabaya:

Temukan daftar alamat toko perlengkapan bayi (baby shop) baik offline maupun online selengkapnya disini!

Selasa, Juni 17, 2014

Gang Dolly: Lokalisasi Surabaya Yang Segera Ditutup

Dolly, Surabaya

Wisma-Barbara-Tampak-Gang-Dolly-Surabaya
Dolly atau Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia. Di kawasan lokalisasi ini, wanita tuna susila yang menjual jasa seks kepada para calon pelanggannya "dijejerkan" di dalam ruangan berdinding kaca mirip etalase toko atau sebuah akuarium.

Konon lokalisasi ini adalah yang terbesar di Asia Tenggara dan luasnya lebih besar dari Lokalisasi Patpong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura. Bahkan pernah timbul sebuah wacana kontroversial untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara yang ingin menjelajahi wisata seks di Indonesia. Ini bertentangan dengan ajaran agama yang dianut di Indonesia, walaupun Thailand sudah terbukti meraih kesuksesan dengan konsep "sex-tourism" yang dikumandangkannya, namun bukan berarti Indonesia harus meniru cara untuk mempromosikan pariwisata dengan jalan yang kurang terpuji.

Para penjaja seks komersial (PSK) yang menunggu pelanggan di salah satu Wisma

Sejarah Gang Dolly versi Tempo

Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly Van Der Mart. Keturunan dari Tante Dolly ini diyakini sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis esek-esek ini. Kawasan Dolly berada di tengah kota Surabaya, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya bagi pekerja seks, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang ojek, dan tukang becak. Para pekerja seks berasal dari Semarang, Kudus, Pati, Purwodadi, Nganjuk, Surabaya, Banyuwangi, Manado, dan daerah lainnya di Indonesia.

Salah satu pekerja seks komersial (PSK) di Gang Dolly, Surabaya, sebut saja namanya Maemunah (bukan nama sebenarnya) mengaku dalam semalam ia mampu melayani lima sampai tujuh orang pelanggan. Tapi, kalau sedang malam Minggu, pria hidung belang banyak berkunjung. Saat itu, dalam semalam, ia bisa melayani 10 sampai 13 orang.

Dikatakan Sinta, tarif untuk kencan dengan dirinya tergolong cukup tinggi untuk kelas PSK Dolly. Sekali booking untuk bercinta pengunjung harus merogoh kocek sebesar Rp 200 ribu. Uang itu diberikan pelanggan untuk mendapatkan servis main seks selama satu jam plus dua kali karaoke. “Tarifnya setiap wisma memang berbeda-beda, mas, tergantung kelasnya,” ujar perempuan betubuh sintal itu kepada wartawan koran Tempo yang mewancarainya, Jumat, 11 Oktober 2013.

Perempuan yang sudah lima tahun bekerja sebagai pelacur di Gang Dolly ini mengaku dari hasil melayani tamunya, ia mendapatkan bagian 30 persen dari tarif yang ditetapkan oleh pengelola wisma. Pemilik wisma mendapatkan bagian 60 persen, sementara 10 persennya diberikan kepada calo atau makelar yang bertugas mencari pelanggan di depan wisma. “Ya, kalau dihitung-hitung cukuplah untuk makan dan dikirim ke kampung,” katanya kepada Tempo di wisma New Barbara, Surabaya, Rabu, 9 Oktober 2013. Ini berarti dari lima kali bermain dengan customer, Maemunah bisa memperoleh omset sebesar satu juta rupiah dan ia sendiri mendapat komisi sebesar Rp 300.000,- pada hari itu.

Maemunah, yang kini berusia 32 tahun, mengatakan ia tidak boleh menerima uang langsung dari para pelanggannya. Pembayaran semuanya dipusatkan di kasir yang ada di ruangan utama wisma. “Jadi kami tidak bisa pegang uang langsung,” katanya.

Maemunah bisa menikmati hasil kerja kerasnya pada saat pagi hari setelah semua wisma tutup, yaitu sekitar pukul 04.00 WIB. Pemilik wisma akan membagikan penghasilan mereka setelah dipotong utang-utang.

Wisma Barbara adalah salah satu wisma terbesar di Gang Dolly. Saat ini, menurut Lurah Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Bambang Hartono, ada 52 wisma resmi di Dolly dengan jumlah PSK 1.025 orang dari berbagai daerah. Secara mengejutkan menjelang dibubarkannya lokalisasi ini oleh walikota Surabaya, Tri Rismaharini, jumlah total PSK yang didata di Dolly membengkak menjadi 1.423 PSK. Entah apakah ada permainan di balik ini untuk mengeruk uang pembayaran kompensasi bagi mereka yang bersedia meninggalkan Dolly sebesar Rp 5 juta rupiah. Jika dikalikan 100 orang saja data yang di-mark up, maka sudah ada dana Rp 500.000.000,- yang harus dibayarkan. Ada ketentuan bahwa semua wisma di Dolly dilarang menerima pekerja seks baru. Larangan ini bertujuan agar jumlah pekerja seks di lokalisasi terbesar di Jawa Timur itu tidak semakin bertambah.

Berbicara tentang surabaya, pasti tidak akan pernah lepas dari image dolly. Konon, dolly lebih terkenal ketimbang surabaya. Waktu di BALI , ada orang AUSIE dan BRAZIL yang lebih tahu DOLLY ketimbang Surabaya. Dan berikut ini sedikit petikan tentang Sejarah Gang Dolly.

Sejarah Gang Dolly versi lainnya


Menurut sejarah, Dolly berdiri sejak jaman penjajahan Belanda. Awal mula gang Doli alias Dolly masih belum bisa ditentukan secara pasti sejak kapan dolly berdiri. Dolly didirikan oleh TANTE DOLLY yang merupakan asli keturunan Nonik Belanda nama lengkapnya adalah Tante Dolly Van Der Mart, turunan Tante dolly masih ada hingga kini, tapi tidak ada yang mengurus Dolly lagi. Sebagai pencetus dan pendiri dolly, tante dolly terbilang sukses. Buktinya, Dolly adalah salah satu prostitusi terbesar di asia tenggara mengalahkan Phat Pong di Bangkok, Thailand dan Geylang di Singapura, sungguh ironis memang.

Kawasan Dolly berada di tengah kota, berbaur dengan pemukiman penduduk yang padat, di kawasan Putat, Surabaya. Di sana, tak hanya terdengar derungan suara mesin kendaraan yang lewat, tetapi juga ada desahan napas para kupu-kupu malam yang terdengar sayup-sayup di balik kamar sempit.

Kompleks lokalisasi Dolly menjadi sumber rezeki bagi banyak pihak. Bukan hanya PSK, tetapi juga pemilik warung, penjaja rokok, tukang parkir, tukang becak dan lain-lain. Di sana juga terdengar sayup-sayup seorang anak sedang melantunkan ayat-ayat suci, dan kalimat-kalimat bijak di tengah-tengah majelis pendidikan, kompleks banget kegiatan disana.

Pernah terlintas agar Dolly dimasukkan icon wisata bagi kota surabaya!! Sudah tentu hal ini memicu terjadinya kontroversi untuk memasukkan Gang Dolly sebagai salah satu daerah tujuan wisata Surabaya bagi wisatawan mancanegara.

Berkaca dari keberhasilan pemerintahan DKI Jakarta yang membubarkan lokalisasi Kramat Tunggak di Jakarta Utara dan menggantikannya dengan kompleks Islamic Centre yang megah, kini pemerintahan kota Surabaya yang dikomandoi sang Walikota Tri Rismaharini tengah berupaya untuk menutup lokalisasi terbesar di Asia Tenggara ini.

Walaupun mendapat perlawanan dari sejumlah pihak yang merasa dirugikan, Tri Risma tetap teguh untuk melanjutkan niatnya membongkar Dolly dan menggantinya dengan kompleks Islamic Center. Sungguh suatu upaya yang mulia, dan saya wajib untuk menyuarakan dukungan terhadap gerakan Risma ini.

Dari sini, kita bisa tau kenapa tempat seperti dolly masih eksis sampai sekarang ini. Selain karena faktor sejarah Gang Dolly yang sudah bertahun-tahun berdiri juga banyak pihak yang meraup untung dari keberadaannya.

Kini menjelang Dolly ditutup, semoga Surabaya memiliki icon pengganti yang lebih positif ketimbang terkenal karena adanya lokalisasi pelacuran.
Share it Please

Gde Adrian Subastian

Menyediakan beragam info penting tentang Surabaya, Kota Pahlawan. Kagum dengan Walikota Surabaya Tri Rismaharini yang berdedikasi tinggi terhadap warga kota dan keindahan serta kebersihan Kota Surabaya. Mencintai Surabaya.

0 komentar:

Posting Komentar

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Disini
Punya bisnis di Surabaya? Toko Online? Pasang iklan di www.InfoSby.asia hanya Rp 175rb/tahun! Jasa tautbalik & review usaha di Surabaya agar lebih mudah ditemukan di Google hanya Rp50rb. info: gdeadrian (at) gmail (dot) com

Kota Surabaya

Kota Surabaya
Logo Kotamadya Surabaya, Ibukota Provinsi Jawa Timur
Copyright @ 2013 Info Sby. Designed by Templateism | Content by: AdrianoizE